meili's Blog

just look it ☜(゚ヮ゚☜)

Selamat Jalan Ibuku Sayang

2 tahun telah berlalu, namun semua tentang almarhumah ibu masih sangat jelas dalam ingatanku. Namaku Niken Dwi,namun aku lebih sering memanggilku Niken. Umurku dua belas tahun. Selama 3 tahun ini, aku hidup hanya berdua bersama ibu. Ayahku pergi meninggalkan kami ketika aku berusia tujuh tahun. Sejak saat itu hanya ibulah satu-satunya orangtuaku. Saat itu aku masih duduk dibangku kelas enam SD. Inilah awal kedatangan badai itu, tepatnya diawal bulan april. Sebuah hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya terjadi. Sepulang sekolah tiba-tiba ibuku mengeluh sakit kepala bagian sebelah kiri. Ibu merasakan sakit yang luar biasa. Dibawa tidur pun sakit itu tak bisa hilang.Ibu berusaha menahan rasa sakit itu, namun aku tak tahan melihat ibu kesakitan. Segera kuhubungi nenek agar menemaniku mengantar ibu ke rumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada ibuku. Setibanya dirumah sakit, ibu langsung dibawa ke bagian Unit Gawat Darurat. Aku duduk menunggu ibu diperiksa dan nenek mengurus administrasi berobat ibu. Dokter mengatakan agar ibu harus segera di CT SCAN agar semuanya menjadi lebih jelas. CT Scan dan test Laboratorium dilalui oleh ibu. Berjam-jam aku dan keluargaku menunggu hingga hasil pemeriksaan keluar. Aku takut hasilnya buruk. Dokter pun membacakan hasil pemeriksaan ibu. Hasilnya ibu terdiagnosa penyakit “Tumor Otak”. Ada sebuah gumpalan daging sebesar telur bebek yang bersarang dikepala ibu bagian kiri. Gumpalan tersebut semakin terus menekan otak ibu dan membuat saraf-saraf otak ibu terjepit. Dokter menyarankan agar ibu di operasi namun peluang keberhasilannya hanya 10%. Hatiku sangat terpukul. Mengapa ibuku menderita penyakit seperti itu. Beban ibu semakin berat. Ibu harus memikirkanku, pendidikanku dan kesehatannya. Seandainya aku bisa membantu menopang beban ibu, namun aku belum bisa melakukan hal itu.Yang harus kulakukan saat ini hanyalah merawat ibuku, dan menjaga ibu hingga ibuku sembuh.

Suatu malam ibu memanggilku dan berpesan,“Niken, jadilah orang yang sukses. Jangan mengeluh.Selalu semangat.Ibu tak  bisa lagi membantumu melakukan hal kecil seperti biasanya. Ibu tak bisa menemanimu belajar seperti dulu. Ibu hanya bisa melihatmu dari jauh dan ibu hanya bisa mendoakanmu. Ibu tak mampu melakukan apa-apa lagi. Maafkan ibu. Kamu satu-satunya kebanggan ibu. Harta ibu yang tak akan bisa digantikan. Kejarlah cita-citamu”,kata ibu sambil tersenyum. Aku tersenyum sambil memeluk ibu. Sepulang sekolah terdengar suara isak tangis memenuhi rumahku. Aku lihat,ibu telah dibaringkan disebuah tempat tidur kecil  berbalut kain putih. Ibuku pergi untuk selamanya. Aku mengantarkan ibuku ke peristirahatan terakhirnya bersama semua pelayat yang ada. Dengan isak tangis tiada henti-hentinya,aku berusaha ikhlas menerima semua ini. Ibu, terima kasih untuk semua kasih sayang yang ibu berikan kepadaku selama ini.Aku akan berusaha menjadi seseorang yang dapat membanggakan ibu dialam sana. Selamat jalan ibu. Ibu dan ayah akan selalu ada didalam hatiku.Aku sayang ibu dan ayah.

Februari 16, 2013 - Posted by | Cerpen | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: