meili's Blog

just look it ☜(゚ヮ゚☜)

Perbedaan Bukan Masalah

indonesiakuJakarta, The city never sleep in Indonesia. Kurang lebih seperti itulah jika digambarkan. Tiada detik yang terbuang dengan hal yang sia – sia. Kepadatan berbagai kendaraan dari roda dua hingga roda empat memenuhi jalan – jalan kota ini. Tak heran jika selalu terjadi kemacetan dimana – mana. Selain itu, aktivitas lainnya juga seakan tak pernah berhenti. Dimulai dari berbagai pekerja kantoran, pertokoan, pedagang kaki lima hingga para pengemis dan pengamen jalanan. Inilah yang menyebabkan kota ini tak pernah tidur. Selain tak pernah tidur, kota ini juga merupakan malting port. Hampir berbagai suku dan budaya ada dikota ini. Kota yang sangat kaya dengan penduduk, keragaman budaya dan berbagai hal yang tak pernah berhenti. Jakarta juga merupakan pusat pemerintahan dan pusat bisnis di negara tercinta kita ini. Semuanya menjadi satu dan mendarah daging di kota jakarta ini.
Digha Permata, itulah aku. Aku seorang mahasiswa yang disalah satu perguruan tinggi swasta di ibukota negara Indonesia. Sejujurnya, aku bukan berasal dari kota ini, aku adalah sebagian kecil dari golongan para pendatang dimana kedatanganku bertujuan untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Di kota ini banyak sekali pilihan yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dimulai dari pendidikan, berbagai sekolah dan berbagai kejuruan tersedia sesuai kemampuan yang kita miliki. Disini juga terdapat berbagai macam kekayaan lainnya yang bisa nikmati di kota ini. Beragam suku dan budaya terdapat di kota ini. Keragaman tersebut membuat kita mampu untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik kepada sesamanya. Selain itu kita mampu menambah wawasan dan pengetahuan baru dari mereka. Itulah yang kuketahui sekilas.
Inilah awal dari kisahku di perantauan. Awal yang terasa sangat berat bagiku. Saat aku harus berpisah dari kedua orang tua dan adik kesayanganku. Dan juga teman – teman yang telah lama bersamaku selama bertahun – tahun harus aku tinggalkan untuk sementara waktu. Menentukan sebuah pilihan ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Pilihan itu adalah saat aku ingin menentukan universitas tempatku melanjutkan pendidikanku. Di kota sebesar ini, aku tinggal bersama keluarga dari ibuku yaitu nenek, saudara dari ibuku yang mempunyai kebiasaan dan aturan yang berbeda dengan yang aku jalani selama ini dirumah. Tantangan baru. Itulah menurutku. Aku harus mulai beradaptasi dengan lingkungan yang paling dekat dariku, yaitu tempat tinggalku saat ini. Sambil nenuntaskan tantangan baru itu, berbagai informasi tentang sekolah – sekolah terbaik aku kumpulkan setiap harinya. Mulai menjelajah dunia maya hingga bertanya ke orang – orang disekitarku. Informasi itu menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan pilihan universitas mana yang sesuai dengan apa yang aku inginkan.
Pagi itu kusambut dengan senyum dan semangat baru yang menggelora. Semua beban untuk sementara kulupakan sejenak. Aku sudah memutuskan untuk memilih sebuah Universitas swasta yang bagus dan dekat dengan rumahku. Aku membeli formulir pendaftaran secara langsung. Aku mengisi formulir tersebut sesuai dengan identitas lengkap, data lainnya serta jurusan yang akan aku pilih. Kemudian aku harus mengikuti serangkaian test mulai dari test secara teori dan test kesehatan kujalani dengan semangat baru itu. Aku bagaikan prajurit yang baru akan memulai peperangannya. Semuanya kulakukan seorang diri hingga kampus menyatakan aku sebagai mahasiswa universitas tersebut. Mulai dari pendaftaran hingga PPSPPT – seperti ospek – Satu persatu kegiatan kujalani dengan rasa ikhlas dan tegar. Semua beban dan tantangan baru itu kusimpan dan teteap kujalani seiring berjalannya waktu. Ada harapan besar yang menantiku di pintu gerbang cita – cita.
Satu minggu telah berlalu setelah kegiatan PPSPPT. Aktivitas perkuliahan pun dimulai. Kelas 1KA25. Inilah kelas baruku. Disinilah aku bertemu dengan teman – teman baru. Teman – teman yang tak pernah aku temui sebelumnya. Mulanya rasa canggung, malu dan tidak percaya diri menghantuiku saat aku ingin memperkenalkan diriku karena aku berasal dari sebuah kabupaten yang jauh diseberang pulau ini. Aku tak yakin aku bisa berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa meninggalkan dialek bahasa daerahku yang kental. Dengan niat dan keberanian, aku maju kedepan kelas dan mulai perkenalkan namaku. “Selamat pagi teman – teman sekalian. Nama saya Digha Permata. Biasa dipanggil Ata. Saya berasal dari SMA Negeri 1 SoE, Nusa Tenggara Timur. Terima kasih.” Aku berhasil menghilangkan dialek daerahku dan tanpa suara yang bergetar dimana menandakan aku gugup. Aku mengetahui bahwa di kelasku ada seorang teman yang berasal dari daerah yang sama denganku namun kita berbeda kabupaten. Dia tinggal di ibukota provinsi sedangkan aku di kabupaten. Inilah saat yang membahagiakanku. Aku tak lagi merasa sendiri dan aneh saat aku berada disekitar teman – temanku apalagi ada teman yang satu daerah denganku. aku tak merasa asing diantara teman yang lain. Suasana pun mencair ketika teman – temanku yang kaku terlihat bisa menerimaku apa adanya. Perbedaan antara suku dan budaya antara aku dan mereka tak menjadi halangan bagi kami untuk bersahabat. Keragaman inilah yang menyatukan kami. Perkenalan pun berakhir seiring dengan masuknya dosen pengajar mata kuliah diawal kelasku.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah tiga bulan waktu perkuliahan berlalu. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dapat aku lewati dengan baik. Suatu hari, akan diadakan kuis untuk salah satu mata kuliah wajib dikelasku. Ini merupakan kuis pertama yang diadakan dikelasku. Semua teman – temanku terlihat saling bersaing satu dengan lainnya. Hal ini seperti tantangan yang harus aku selesaikan dengan baik. Aku bagaikan prajurit yang akan menghadapi tantangan dimedan perang. Berbagai strategi ku buat. Aku membuat sebuah catatan kecil – seperti ringkasan – di sebuah kertas folio besar. Aku pahami dengan maksud dari setiap kalimat yang kutulis tadi. Strategi yang telah kusiapkan, benar – benar ku atur dengan baik. Hingga tiba saatnya waktu kuis berlangsung. Semua soal yang diberikan dengan mudahnya ku selesaikan. Aku bagaikan prajurit yang mampu berperang dengan sangat baik saat melawan musuh.
Semuanya berlalu seperti biasanya. Tak ada lagi yang mulai berarti bagiku. Rasa rindu terhadap kampung halamanku mulai datang mengusikku lagi. Aku telah menghubungi orang tuaku di seberang sana namun rasa rindu itu tak terobati juga. “Ata, kenapa kau melamun ? apa yang kau pikirkan ? ceritalah kepadaku.” Kata temanku yang berasal dari daerah yang sama denganku. Walaupun sudah lebih dari tiga bulan dikota ini, dialeknya masih saja kental. Kuceritakan apa yang aku alami, diselingi dengan canda dan tawa dengan menggunakan bahasa daerah asalku. Hal ini membuat rasa rinduku sedikit berkurang. Oh iya, terkadang aku juga menggunakan bahasa jawa saat bertemu dengan temanku yang berasal dari pulau jawa. Biasanya saat membahas sesuatu yang bisa dibilang rahasia. Hal ini membuatku seakan tak pernah seperti orang baru yang benar – benar sendiri.
Enam bulan berlalu. semua matakuliah yang ada telah aku selesaikan dengan baik. Sambil menunggu hasilnya, kami mengisi libur yang hanya beberapa hari dengan mengikuti seminar – seminar dan kuliah umum yang diadakan oleh kampus. Waktu itu, aku dan teman – teman memutuskan untuk mengikuti seminar bersama. Karena cukup jauh, kita sepakat untuk berangkat bersama. Namun, hasil keputusan dari diskusi yang diadakan sedikit memberatkanku. Jika aku berangkat bersama teman – temanku, maka aku harus menempuh rute perjalanan yang sedikit jauh dan memutar. Apalagi aku tak mempunyai kendaraan sendiri. Setelah berpikir sejenak, aku mencoba memberikan sanggahan kepada teman. Aku mencoba memberikan tempat alternatif yang cukup strategis sehingga mempermudah kami semua. Salah satu temanku tak setuju dengan apa yang aku usulkan. Dia tetap memilih keputusan pertama dan mau tidak mau aku harus mengikuti keputusan itu. aku merasa sangat kecewa pada saat itu, dengan sangat menyesal akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri. Kita bertemu di tempat diadakannya seminar. Rasa kecewa, dan rasa kesendirian mulai datang menggodaku. teman – teman yang telah kuanggap sebagai saudara kini berangkat terpisah dariku, dan aku sendiri. Kulupakan kejadian itu, inilah pengalaman. Itulah menurutku. Mengerti dan memahami orang lain memang terkadang susah. Apalagi pendapat mereka berbeda dengan kita. kukalahkan egoku sendiri agar tak terjadi perpecahan antara aku dan teman – temanku. Aku harus bisa beradaptasi lebih baik disekitar teman – teman.
Memasuki perkuliahan semester kedua. Hasil nilai dari semester sebelumnya tak kunjung keluar. Rasa was – was semakin menghantui aku. Semuanya berkecamuk dalam hatiku. Aku khawatir nilaiku tak memuaskan dan membuat kecewa semuanya. Inilah saat – saat tersulit bagiku. Selain hal itu, teman – teman disekitarku mulai menjauhiku. Entah karena alasan apa, aku tak tahu. Aku mulai merasa asing. Dengan sekuat tenaga aku berupaya tak menunjukkan rasa sendiriku. Aku selalu bergabung bersama teman lainnya jika mereka tak menganggapku ada disekitar mereka. Perkuliahan di semester ini juga terasa sangat susah. Materi yang diberikan jauh lebih susah dibanding semster sebuelumnya. Walaupun aku sudah mulai terbiasa dengan tugas yang banyak dan laporan – laporan praktikum yang tiada henti. Benar – benar terasa sepi. Disinilah aku menemukan duasahabat baru. dua temanku ini selalu bersamaku kapan pun. Mereka bisa menerima ku apa adanya. Aku harus teteap fokus pada perkuliahanku. Aku tak ingin semuanya kacau hanya karena masalah seperti ini. suatu ketika, aku hendak pergi ke kantin kampus. Saat melewati lobby, kulihat sebuah pengumuman lomba mading. Aku harus mengikutinya pikirku. Kusampaikan hal ini kepada dua sahabatku. Mereka meresponnya dengan sangat baik. Mereka sangat berantusias untuk mengikuti lomba ini. kami segera menuju lobby dan mulai mendaftarkan kelompok kami untuk mengikuti lomba mading itu. kami membuat konsep dari mading yang akan kami buat. Semuanya kami kerjakan satu persatu sambil menunggu hasil semester satu keluar. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah dua minggu kami disibukkan dengan kuliah dan pembuatan mading. Dari pengumpulan informasi – informasi yang terbaru. Penggambaran komik strip dan tata letak informasi pada mading. Inilah minggu yang medebarkan. Saat ingin mengumpulkan mading, tiba – tiba salah satu temanku memberitahukan bahwa nilai sudah keluar. Betapa bahagianya aku. Setelah menanti cukup lama, inilah saatnya. Secepat mungkin aku dan dua temanku mengumpulkan mading dan kembali ke kelas. Semua teman – teman sibuk melihat nilai mereka masing – masing. Dengan bismillah, kulihat nilaiku. Betapa kagetnya aku saat melihta nilaiku seperti itu. aku merasa nilaiku jelek. Aku segera menghubungi ibuku yang dipulau lain. “mama, maaf nilai IPKnya kurang memuaskan. hanya 3,72.”kataku sedikit bergetar karena takut. “Alhamdulillah, itu nilai yang bagus sayang. Terus tingkatkan prestasimu. Tunjukkan bahwa kamu bisa.” Kata ibuku di seberang sana. Aku telah berupaya dengan keras agar bisa sama seperti mereka. Dalam hal ini, aku ingin aku bisa meraih prestasi yang gemilang dan menunjukkan aku bisa walaupun aku dari daerah. Kini aku tak merasa berbeda dengan teman – temanku karena daerah asalku. Selain itu, aku dan teman – temanku berhasil mendapatkan juara pertama pada lomba mading. Rasa bahagiaku tak bsa kuungkapkan lagi melalui kata – kata, hanya senyuman manis yang terlukis di bibirku.
Hari berganti hari. Kesibukanku telah membuatku menjadi lupa dengan orang – orang di sekitarku. Di tambah lagi dengan berbagai prestasi yang telah ku raih. Aku bagaikan indvidualis dalam sebuah kelompok. Hal ini kian lama mengubah jati diri yang telah ku miliki. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan aku yang seorang anak daerah dulu. Sungguh hal yang sangat memalukan. Suatu ketika salah seorang temanku mengajakku belajar bersama. Namun, entah mengapa aku tak bisa belajar bersamanya karena suatu alasan tersendiri. Saat itu aku tak ingin berada bersama dengan mereka. Aku tak ingin berada bersama mereka karena aku tak mau prestasiku disaingi oleh mereka. Rasa egoisme yang tinggi membuatku dijauhi oleh teman – teman disekitarku, bahkan oleh kedua sahabatku. Seminggu. Dua minggu. Hal itu terlihat biasa saja, walaupun aku telah mengalamai hal seperti ini sebelumnya. Di satu sisi, aku hanya ingin menjadi orang yang bisa membanggakan orang tua dan orang – orang yang ada disekitarku. Di sisi lainnya, aku tak ingin menyakiti teman – teman yang telah aku anggap sebagai saudara. Masalah ini membuatku semakin bimbang. Setiap hari rasa kesepian, serba salah dan malu selalu berkecamuk didalam pikiranku. Bathinku berperang. Aku mencoba diam dalam kesalahanku sendiri. Aku lebih sering terlihat melamun dan tidak konsentrasi saat kuliah berlangsung. Hal tersebutlah yang membuatku mengalami penurunan dalam hal prestasi. IPK-ku menurun drastis dan pada setiap event lomba yang diadakan, aku tidak lagi menjadi juara. Melihat keadaan itu, kedua sahabatku mencoba untuk membicarakannya kepadaku. “ Ata, apa yang membuatmu berubah seperti ini ? dulu, kamu bisa menjadi diri kamu sendiri tanpa ada beban. Sekarang kamu terlihat bukan seperti kamu yang dulu. Semuanya berubah 180 derajat. Rasa persaudaraan yang selalu kamu junjung terlihat diabaikan olehmu. Bahkan kamu lebih suka menjadi kelompok individualis. Apa yang membuatmu berubah ?.” aku menjelaskan secara detail mengapa hal ini bisa sampai mengubahku. Aku terbuai oleh prestasi dan rasa egoisku dalam mencapai semua hal yang aku inginkan. Walaupun disisi ini aku merasa tersiksa, aku berusaha untuk tetap menikmatinya. Ternyata hal ini sangat salah dimata semua orang yang ada disekitarku. Akhirnya, teman – temanku mengerti dengan apa yang aku jelaskan. Mereka paham mengapa aku berubah seperti itu. “Ata, kita semua adalah saudara. Saat kam merasa kesulitan selalu ada kami disampingmu. Saat kami tak dekat denganmu atau kami sibuk dengan urusan kami, bukan berarti kami tak mengerti dan memahami kamu. Persaudaraan itu indah ta.” Kata salah satu temanku sambil memeluk bahuku. Mendengar hal itu, hatiku semakin miris. Rasa bersalah semakin membuatku terpuruk. Namun akhirnya aku sadar bahwa persaudaraan itu lebih penting dari apapun. Dari persaudaraan itulah timbul rasa damai dalam jiwaku. Aku bertekad untuk terus menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan perdamaian yang ada disekitarku. Dari hal kecil inilah yang dapat menjadi tolak ukur bagi diriku. Aku tak bisa jika hanya seorang diri dengan keegoisanku. Tak ada perdamaian jika aku sendiri. Persaudaraan antara aku dan temanku menunjukkan perdamaian yang indah diantara kita semua. Perbedaan antara aku dan teman – temanku tak membuat persaudaraan kami terputuskan.wawasan ku tentang nusantara terus bertambah melalui cerita – cerita mereka walaupun aku belum pernah mengunjungi daerah mereka. Mulai dari hal yang kecil seperti inilah yang akan membuatku menanamkan didalam hatiku untuk mewujudkan sebuah perubahan besar kepada bangsaku kelak. Melalui perbedaan, persaudaraan dan perdamaian yang ada kami menjadi suatu kesatuan dalam bangsa sesuai dengan semboyan bangsa kita BHINEKA TUNGGAL IKA.

Februari 16, 2013 - Posted by | Cerpen | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: